Selasa, 21 Februari 2012

Tak Semanis Gula Jawa



Tulang kaki  dari laki-laki tua itu nampaknya masih kuat saja berjalan menyusuri panjangnya alur kehidupan. Tak nampak sedikitpun kelelahan yang nampak dari tulang kaki tersebut. Sepanjang hari kaki yang sudah sekian lama itu digunakan untuk berjalan. Namun, tak sedikitpun tulang kaki tersebut mengeluh kepada sang empunya. Kuat, kokoh, itulah yang bisa digambarkan tulang kaki tersebut setiap hari. Tak hanya itu, tulang tangan dan mungkin juga bisa semua tulang yang ada di tubuhnya bisa dikatakan kuat setelah sekian lama menempel di kulit yang sudah mulai nampak keriput dan layu itu. Sama seperti halnya tulang kaki tersebut, tulang-tulang yang lainpun sepertinya tak pernah mengeluh sedikitpun kepada sang empunya setelah sekian lama menempel dan digunakan beraktifitas oleh empunya. 80 tahun lebih kakek itu telah hidup di dunia ini, dan sampai saat ini masih ada.
Matahari mulai nampak keemasan, bersiap menyambut pagi. Kicauan burung dan kokokan ayam menambah hangatnya suasana pagi. 


Langkahnya masih tegap dan kuat, walupun agak sedikit membungkuk karena faktor usia. Dengan sedikit tergesa-gesa ia menuju kebun yang berada di belakang rumahnya. Rumah yang sedikit miring yang terbuat dari bambu. Atapnya sudah banyak yang berlubang karena termakan usia. Tiang-tiangnyapun sudah mulai keropos dimakan hewan-hewan kecil yang orang Jawa biasa disebut hewan “thothor” . Rumput-rumput dan ilalang yang sudah panjang tumbuh subur di halaman depan dan samping rumah, dibiarkan saja tak terurus. Meja, kursi, lemari kelihatan tak terurus, debu-debu bersarang di tempat itu. Hanya meja makan saja yang sedikit agak bersih. Hening, sepi, sunyi, mungkin gambaran rumah itu. Hanya sebatang kara saja yang tinggal di ramah tua nan kotor itu. Istri dan ank-anaknya entah kemana. Mungkin istrinya sudah menainggal. Mungkin juga anak-anaknya sudah berkeluarga sendiri di perantauan yang tak pernah kembali untuk menengok sedikitpun pada ayahnya. Ah..itu cuma firastku saja, semoga saja tidak benar.

Tulang – tulang kuat itu selalu menemaninya setiap ia pergi kemana dan dimana, sepanjang waktu. Jalan-jalan disusuri tanpa merasa lelah, demi mempertahankan hidup. Nampak dari samping, sebuah tabung berukuran sedang yang terbuat dari bambu selalu juga menemaninya. Tabung itu dikalungkan di lengannya agar mudah dibawa.  Dengan menggunakan kaos dan celana pendek, kakek itu berjalan cepat menuju kebun. Pohon kelapa yang di tuju.

Tanpa sedikit canggung, kakek tersebut memanjat pohon kelapa itu dengan cekatan. Pohon kelapa yang mungkin sudah berusia belasan atau bahkan puluhan tahun, jika dilihat dari tingginya pohon. Hampir 20 meter lebih. Dengan cepatnya, kakek tua itu sampai juga di atas pohon kelapa. Tangannya tertuju pada beberapa bunga kelapa yang mengandung gula yang telah di sadap, nira kelapa sebutannya. Tangannya yang gesit, mencoba mengambil tabung bambu yang telah dipasang sehari sebelumnya yang sudah berisi penuh nira kelapa. Untuk kemudian digantikan dengan tabung bambu kosong yang dibawanya tadi, dan menyadap beberapa bunga kelapa lagi. Dengan sekejap, kakek tua itu kembali turun ke tanah dengan cepatnya. Tak nampak kelelahan dari raut wajah tuanya. 40 tahun sudah kakek tua itu bergelut dengan pohon kelapa. Sepertinya, kakek itu bekerja sebagai pembuat gula jawa. Ya, hanya itu yang bisa diandalkan oleh kakek tua itu untuk menyambung hidupnya. Tak terbayangkan jika kakek tua itu jatuh sakit, atau pohon kelapanya sudah mati harus menggantungkan hidup dari mana lagi.

Dengan langkah yang mantap, kakek tua itu kembali ke rumah tua yang sudah usang itu. Dibukanya tabung bambu yang sudah penuh berisi nira kelapa itu. Senyum mengembang terpancar dari raut muka kakek tua itu. Mungkin merasa hasil sadapan hari ini lebih banyak dari kemarin, sehingga hasil gula jawa yang akan jadi akan lebih banyak pula. Dituangkanlah nira itu ke dalam panci. Tanpa perlu di ajari lagi, kakek tua itu sudah sangat mahir adalam hal pembuatan gula jawa. Tungku dinyalakan dengan api yang terbuat dari kayu-kayu dan ranting yang sudah kering dari kebun yang di dapatnya setiap hari.

Dengan sabarnya, kakek tua itu mengaduk-aduk nira yang sedang dimasak di dalam panci. Warna merah kecoklatan sudah mulai nampak. Nira yang semula encer berubah menjadi sedikit mengental. Diaduknya nira dalam panci itu dengan sabarnya oleh kakek tua itu. Kesabaran yang jarang ditemui oleh orang setua itu. Nira hasil olahan pun sepertinya sudah siap diproses selanjutnya. Diangkatlah panci berisi nira itu dari tungku. Dengan agak sedikit kepanasan, kakek tua itu mengangkatnya dengan dilapisi kain. Peluh keringatpun bercucuran, bau sangit tercium sangat jelas dari tubuh kakek tua itu. Namun disisi lain, wajah kegembiraan terpancar jelas dari kakek itu. Nira hasil olahan lebih banyak dari hari sebelumnya.
Diaduk-aduklah nira itu dari panci yang sudah diangkat tadi. Kakek itu mengambil cetakan gula. Dituangkanlah nira hasil olahan tadi ke dalam cetakan. Yang berbentuk lingkaran kecil-kecil. Sehingga nantinya, gula yang akan jadi itu berbentuk setengah lingkaran bulat. Didiamkanlah nira itu dalam cetakan beberapa saat untuk didinginkan untuk kemudian siap menjadi gula jawa yang manis. Namun sayang, nasib kakek itu tak semanis gula jawa yang dibuatnya. Hidpnya hanya pas-pasan sekedar cukup untuk makan. Harga jual gulanya tak sebanding pengorbanan kakek tua itu dalam membuatnya. Akan tetapi kakek itu tetap memberikan senyumannya sebagai tanda syukur. Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi saya.

Kakek tua yang hanya hidup sebatang kara, tanpa ada yang menemaninya. Hidup susah, serba keterbatasan. Namun yang menjadi kekagumanku adalah semangat dan daya tahan kakek tua itu dalam menempuh susahnya kehidupan ini. Kakek tua yang mungkin bisa menjadi bahan pelajaran bagiku. Kakek tua yang tanpa mengeluh menjalani hidup yang susah seperti ini. Kakek tua yang hidup sederhana, tanpa merasa terbebani dengan susahnya hidup. Hanya kepada Alloh SWT lah mengadu. Kakek tua yang yang masih dapat tersenyum dengan tulusnya dikala susah.

Sedangkan kita, kita mungkin masih sangat jauh lebih muda dari kakek tua itu, fisik masih sangat kuat, otak masih segar namun kita terkadang  masih banyak sering mengeluh menjalani beban hidup ini. Kita juga tekadang sering putus asa dalam menghadapi ujian dan cobaan hidup. Perihal sabar, mungkin kita jarang mengingatnya tatkala kita sendiri yang mengalami ujian dan cobaan yang sangat berat. Dalam ajaran agama kita Islam, dilarang utuk berputus asa dan dianjurkan bersabar dalam menghadapi segala cobaan dari Alloh SWT. Kita juga sangat di anjurkan agar selalu bersyukur dalam segala keadaan.

Dari kisah itu, saya dapatkan betapa sabar dan gigihnya perjuangan seorang kakek tua itu dalam menjalani hidup. Kakek yang masih dapat mensyukuri atas nikmat yang Alloh SWT berikan kepadanya. Kakek yang masih dapat tersenyum dikala yang sebenarnya masih serba kekurangan. Kakek tua yang mungkin satu dari sekian banyak orang tua yang tetap sabar dalam menjalani hidup susah di tengah kesendiriannya. Kakek tua yang mungkin dapat saya jadikan inspirasi dan motivasi dalam menjalani hidup ini.

Kisah perjuangan kakek tua ini saya dapatkan setelah saya melihat siaran berita di TVRI Jogja hari Selasa, 21 Februari 2012 pukul 17.45 WIB.

Mari kita renungkan ayat-ayat Al Qur’an ini:
Alloh SWT berfirman:
 “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar:10)
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (Al Baqoroh : 152)
 “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah”. (Al Baqoroh: 172)
“ Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. (An Nahl: 144)

1 komentar:

kharis alimoerdhoni arief mengatakan...

Makasi renungannya, semoga kakek itu selalu di beri petunjuk jalan yang LURUS dan DAPAT REZKI YANG HALAL...

SUKSES FITRIANTO

Posting Komentar